PRO-KONTRA PENGAJARAN
CA-LIS-TUNG DI PAUD
Masalah
Calistung di jenjang PAUD seharusnya sudah selesai mengingat kebijakan
pemerintah sudah jelas bahwa kemampuan Calistung tidak menjadi beban kurikulum
di jenjang PAUD. Hal ini dimaksudkan
agar anak-anak di PAUD tidak tidak terjebak pada pembelajaran yang bersifak
akademik. Namun untuk menjawab pertanyaan, “Bolehkah PAUD mengajarkan
Calistung?” Jawabannya tidak cukup
dengan kata “tidak” atau “boleh”, tetapi harus disertai argumentasi yang
mendasari: “boleh jika ...” atau “tidak boleh jika...”. Dalam kaitan ini seorang psikolog kawakan
yang juga mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Fuad Hasan (Tedjasaputra 2001:
xii) mengingatkan:
“...apa perlu anak
usia tiga tahun sudah kecanduan membaca? Apa kemahiran berhitung pada usia tiga
tahun sudah berfungsi dalam interaksi antara si anak dengan lingkungannya (social arithmetic)? Apa tidak ada
permainan yang lebih baik bagi perkembangan fungsi kognitif dan motorik anak
usia 3 tahun dibandingkan dengan kecanduan bermain ‘games’ pada komputer?”
Orang
awam memang mudah terkesan oleh pembelajaran yang dipercepat yang menghasilkan
anak “cepat pintar atau terampil”. Mereka kurang peduli terhadap prosesnya,
yang penting hasilnya. Hal ini tentu bertentangan dengan prinsip pembelajaran
di PAUD yang lebih mengutamakan proses daripada hasil. Pembelajaran pada jenjang PAUD harus sesuai dengan
tahapan perkembangan anak atau dalam istilah asing disebut Developmentally Appropriate Practices (DAP). DAP menggariskan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan
anak. Tujuannya adalah untuk membantu proses perkembangan yang sedang berlangsung (Carol Copple and Sue Bredekamp 2006: 3). Walaupun
anak bisa diajarkan Calistung dengan cara “drilling”
seperti yang banyak dilakukan oleh para pendidik yang belum memahami esensi
PAUD, namun bukan berarti hal itu boleh dilakukan. Pembelajaran Calistung yang dilakukan dengan
menggunakan pola seperti ini, justeru akan merugikan perkembangan anak itu
sendiri.
Lantas,
apakah Calistung tidak boleh diajarkan di PAUD?
Jawabannya adalah “boleh”, asal dilakukan oleh guru yang berkompeten
dengan cara yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang bersangkutan. Hal ini mengingat bahwa tingkat kesiapan
Calistung antar anak berbeda-beda, sehingga jika mau dilakukan di jenjang PAUD
harus dilakukan secara individual dengan melihat kesiapan anak yang
bersangkutan. Untuk mencapai tingkat
kesiapan, banyak persyaratan yang harus dipenuhi. Selain faktor kematangan biologis, banyak
lagi indikator kesiapan yang harus dipenuhi.
Misalnya: anak dikatakan siap membaca jika anak telah memiliki pemahaman
fonem, fonemik, fonologis, dan tulisan (Gearge S. Morrison, 2012: 262). Anak dikatakan siap menulis jika jemarinya
sudah cukup kuat untuk memegang alat tulis dalam jangka waktu tertentu, gerakan
motorik halusnya sudah mampu negarahkan
goresan, dan emosinya sudah terkendali untuk melakukan pekerjaan ini. Sedangkan
dikatakan siap berhitung jika anak sudah mulai memiliki pemahaman tentang
konsep bilangan. Itu pun harus dilakukan
dengan menggunakan benda konkrit.
Kata-kata
pertama dan buku pertama anak harus dibuat sendiri oleh anak. Kata-kata itu harus bermakna dan menjadi
bagian dari kehidupannya seperti namanya sendiri, nama benda kesukaannya, nama
anggota keluarganya, dan nama-nama benda di sekitarnya. Buku pertamanya bisa dibuat dari kumpulan
hasil karya tahapan menulis yang ia lakukan, mulai dari coret-coretan bebas,
coretan terarah, huruf-huruf acak, menulis namanya, mencontoh kata-kata di
lingkungannya, hingga akhirnya menemukan ejaan.
Semua itu harus dilakukan secara alami, sesuai dengan kesiapan
anak. Kesiapan ini umumnya muncul
sekitar usia 5, 6, atau 7 tahun. Hal ini tergantung dari faktor genetik dan
dukungan lingkungan terhadap program keaksaraan. Penguasaan kosa-kata dan
bahasa anak juga sangat mempengaruhi kesiapan anak. Pemerintah Amerika Serikat menetapkan
target bahwa semua anak harus bisa membaca dan menulis pada kelas 3 sekolah
dasar (Gearge S. Morrison, 2012: 260).
Program
keaksaraan sebaiknya secara alami telah dimulai sejak anak dilahirkan. Pengenalan keaksaraan ini dialami oleh anak
saat melihat tulisan di buku, majalah, papan reklame, TV, dan media lainnya. Semua itu akan terekam di otak anak, sehingga
saat diajarkan dengan mudah ia memahaminya.
Perdasarkan
Permendiknas nomor 58 Tahun 2009 tentang Standar PAUD, tingkat pencapaian
perkembangan pada aspek bahasa sub aspek keaksaraan untuk kelompok anak usia
5-6 tahun mencakup:
- Menyebutkan simbol-simbol huruf yang dikenal.
- Mengenal suara huruf awal dari nama benda-benda yang ada di sekitarnya.
- Menyebutkan kelompok gambar yang memiliki bunyi/huruf awal yang sama.
- Memahami hubungan antara bunyi dan bentuk huruf.
- Membaca nama sendiri.
- Menulis nama sendiri.
Kutipan
di atas menunjukkan bahwa tuntutan standar nasional dalam pembelajaran PAUD
kelompok usia 5-6 tahun yang di tingkat Taman Kanak-kanak disebut kelas B yang
merupakan kelompok transisi menuju SD tidaklah berat. Hal ini baru sekedar munculnya keaksaraan
melalui kesadaran simbol, kesadaran bunyi, pengenalan huruf-huruf awal benda,
hingga akhirnya mampu membaca dan menulis namanya sendiri. Bahwa ada anak yang sudah mampu memaca dan
menulis dengan lancar, sepanjang dilakukan secara alami sesuai dengan tahapan
perkembangan anak, maka syah-syah saja.
Namun jika pendidik belum mampu melakukannya secara benar, lebih baik
pengajaran Calistung dilakukan di SD kelas awal.
Jika
dikaitkan dengan ilmu perkembangan otak, pembelajaran yang tidak sesuai dengan
perkembangan anak, dalam jangka panjang justeru sangat merugikan anak yang
bersangkutan. Pada rentang usia dini,
anak mengalami ledakan perkembangan otak yang luar biasa. Dengan modal saat dilahirkan memiliki sekitar
100 milyar sel otak, pada usia 2 tahun sel-sel tersebut telah membentuk
jaringan serabut sambungan antar sel hingga berpotensi mencapai 1.500 trilyun
sambungan. Ledakan tersebut antara lain
ditandai oleh tumbuh-suburnya percabangan dendrit dan ujung akson serta
terbentuknya mielin (selubung akson) dan sinapsis (sambungan antar sel otak). Optimalisasi ledakan tersebut terjadi jika
anak mengalami banjir pengalaman indera, terpenuhinya gizi, terawatnya
kesehatan, diperolehnya pengasuhan penuh kasih sayang, dan terlindunginya anak
dari berbagai ancaman dan gangguan.
Sebaliknya, jika anak kurang disentuh atau memperoleh perlakuan yang
tidak sesuai dengan kebutuhan perkembangannya, maka selain perkembangan
jaringan otaknya tidak optimal, jaringan yang sudah terbentuk pun dapat
mengalami atrofi. Dengan demikian baik secara kuantitas maupun
kualitas, jaringan yang terbentuk menjadi berkurang dan lemah. Hal ini akan sangat berpengaruh terhadap
kapasitas kecerdasannya.
Paul
MacLean dalam CCCRT (2005: 19) dengan teorinya yang dikenal dengan sebutan tiga
dalam satu otak (three in one brain)
mengungkapkan bahwa jika anak belajar dalam kondisi tidak aman atau merasa
tidak nyaman, maka batang otaknya akan bereaksi dengan melawan atau
menghindar. Sebaliknya, jika anak dalam
kondisi aman dan merasa diterima oleh lingkungannya, maka sistem limbik sebagai
pusat emosi akan bereaksi membentuk emosi positif. Dalam kondisi ini korteksnya sebagai pusat
berfikir siap bekerja atau dengan kata lain anak siap belajar.
Menurut
Johnson (2010: 2), jika kegiatan di sekolah menghasilkan perasaan negatif,
kebosanan, bersifat hafalan atau kurangnya rangsangan yang bersifat gerakan,
maka sel-sel otak anak akan membentuk asosiasi negatif yang permanen dengan
kegiatan sekolah.
Bagaimana
seharusnya anak belajar? Toritisi perkembangan seperti Rousseau sebagaimana
dikutip Brewer (2007: 2) mengibaratkan anak seperti benih apel yang berisi
semua elemen untuk menghasilkan buah apel yang luar biasa jika diberi pupuk
yang tepat, diberi cukup air, mendapat sinar matahari, serta memiliki iklim
yang sesuai. Dalam hal ini peran guru
adalah sebagai petaninya. Piaget (1972) mengungkapkan bahwa agar anak memahami
sesuatu, ia harus membangun pengertian dan menemukannya sendiri. Dalam hal ini
peran guru sebagai fasilitator. Vygotsky dalam Hary Daniels (2008:35-45)
menggambarkan belajar sebagai mengkonstruksi pengetahuan dalam kontek
sosial. Jika anak memperoleh bimbingan
dan bantuan dari mitra yang lebih dewasa, maka ia dapat mencapai tingkat
perkembangan yang lebih tinggi daripada apa yang mampu diperolehnya tanpa
bantuan orang lain. Dalam hal ini peran
guru sebagai pembimbing.
Terkait
dengan Calistung, tujuan utama pembelajarannya membuat anak senang membaca, bukan
sekedar bisa membaca; membuat anak senang menulis, bukan sekedar bisa menulis;
dan membuat anak senang berhitung, bukan sekedar bisa berhitung. Sedangkan kaitannya dengan sekolah, tujuan
utama PAUD adalah membuat anak senang bersekolah. Masa bersekolah anak panjang, sehingga
janganlah dulu dibebani muatan kurikulum yang belum saatnya yang justeru akan
menciptakan rasa kebencian terhadap institusi sekolah.
Untuk
mengantisipasi terjadinya pemaksaan Calistung pada jenjang PAUD, pemerintah
melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan
Penyelenggaraan Pendidikan dengan tegas melarang adanya tes sebagai persyaratan
penerimaan peserta didik SD/MI. Larangan tersebut tertuang dalam pasal 69 ayat
5 yang berbunyi, “Penerimaan peserta didik kelas 1 SD/MI atau bentuk lain yang
sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan
berhitung, atau bentuk tes lain”.
Selanjutnya disebutkan:
(1) Dalam hal jumlah calon peserta didik
melebihi daya tampung satuan pendidikan, maka pemilihan peserta didik pada
SD/MI berdasarkan pada usia calon peserta didik dengan prioritas dari yang
paling tua.
(2) Jika usia calon peserta didik
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sama, maka penentuan peserta didik
didasarkan pada jarak tempat tinggal calon peserta didik yang paling dekat
dengan satuan pendidikan.
(3) Jika usia dan/atau jarak tempat
tinggal calon peserta didik dengan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dan ayat (2) sama, maka peserta didik yang mendaftar lebih awal
diprioritaskan.
CONTOH KEGIATAN PEMBELAJARAN CALISTUNG YANG MENYENANGKAN BAGI ANAK DI KB 'AISYIYAH PURWOREJO
BERMAIN KARTU GAMBAR DAN KATAMENCARI KATA DENGAN AWALAN /AKHIRAN YANG SAMA
MENYEBUTKAN HASIL PENAMBAHAN DAN PENGURANGAN DENGAN GAMBAR
BERMAIN KARTU DOMINO
(MEMBILANG)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar