Untuk
Siapa?
Apakah Anda adalah seorang pendidik yang merasa dibingungkan
dengan tren-tren pendidikan usia dini yang baru? Apakah Anda seorang guru yang
seringkali dipusingkan dengan masalah bagaimana menyusun aktvitas-aktivitas
yang optimal untuk anak? Jika ya, buku ini dipersembahkan untuk Anda. artikel ini disusun bagi pendidik dimana saja untuk memberikan pengetahuan, pemahaman, dan strategi-strategi baru dalam
membantu anak mengembangkan diri. artikel ini akan membantu Anda, para pendidik,
untuk menghadapi “medan perang” Anda yang tuntutannya semakin kompleks dan
beragam dan menjadikan Anda pendidik yang handal.
Mengapa?
Program
pendidikan anak usia dini telah mengalami perubahan dan semakin beragam dalam
beberapa tahun belakangan ini karena banyak orang semakin menyadari pentingnya
memberikan pengalaman pendidikan selama tahun-tahun awal kehidupan anak. Karakteristik
pendidikan yang diberikan pun mengalami beberapa perubahan, antara lain:
1. Suku dan budaya yang semakin
beragam diantara para siswa yang menuntut pemahaman dan pendekatan pendidikan
dari berbagai budaya.
2. Pendidikan yang semakin terbuka
dalam memfasilitasi anak-anak dengan kebutuhan khusus seperti anak dengan
berbagai ketunaan, autism, dan lain sebagainya, salah satunya dengan
memperbanyak sekolah inklusi.
3. Usia masuk sekolah yang semakin
muda dan durasi kegiatan di sekolah yang semakin panjang.
Semua
perubahan ini membutuhkan suatu program terobosan yang mampu memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan
baru yang timbul. Tapi sebagai awal, pendidik harus mendapatkan bekal mengenai
prinsip-prinsip penting mengenai perkembangan dan pembelajaran anak berdasarkan
tahap perkembangan.
B. Prinsip-Prinsip
Perkembangan dan
Pembelajaran Anak Berdasarkan Tahap Perkembangan
Untuk
merancang aktivitas yang sesuai dengan tahap perkembangan anak, Anda perlu
mengetahui bagaimana anak berkembang dan belajar. Anda perlu memahami perubahan-perubahan
yang biasa terjadi pada bayi sampai usia 8 tahun, perkembangan apa saja yang
mungkin akan muncul, dan strategi yang terbaik untuk mendukung permbelajaran
dan perkembangan anak pada tahun-tahun tersebut. Berikut ini adalah adalah
prinsip-prinsip dasar praktis mengenai perkembangan dan pembelajaran anak yang
dapat dijadikan panduan untuk mengembangkan kegiatan pendidikan yang sesuai
dengan tahap perkembangan.
1. Ranah-ranah
perkembangan anak - fisik, sosial, emosi, dan kognitif – erat berhubungan satu
sama lain dan saling mempengaruhi
Ketika bayi
mulai belajar merangkak atau berjalan, ia memiliki kemampuan untuk semakin menggali
lingkungan sekitarnya, dan apa yang ia dapat dari eksplorasinya akan
berpengaruh terhadap perkembangan kognitifnya. Contoh lain, seiring dengan
kemampuan bahasa anak yang semakin meningkat, ia menjadi semakin mampu untuk
berelasi dengan orang-orang lain, dan semakin banyak ia berelasi dengan
orang-orang lain, semakin kaya pula wawasan dan kemampuan bahasanya.
2. Perkembangan
muncul dalam urutan tertentu yang
semakin lama semakin kompleks
Suatu
kemampuan, ketrampilan, dan pengetahuan tertentu akan muncul bila kemampuan,
ketrampilan, dan pengetahuan prasayaratnya telah diperoleh.
Seperti bangunan yang dibangun di atas lapisan-lapisan batu,
demikian juga perkembangan. Anda perlu mengetahui kemampuan-kemampuan apa yang
merupakan kemampuan dasar dan perlu berkembang terlebih dahulu sebelum
mengajarkan kemampuan yang lebih tinggi . Contohnya: anak perlu belajar untuk
mengenggam dengan erat sebelum ia dapat membuat coretan dengan pensil.
Anak juga
belajar mulai dari hal-hal praktis sebelum akhirnya mampu memahami pengetahuan
yang melibatkan simbol. Seorang anak belajar untuk menemukan jalan pulang ke
rumah atau tempat-tempat lain yang familiar jauh sebelum mereka mampu memahami
arti kiri dan kanan atau dapat membaca peta. Hal itu dikarenakan si anak
mempunyai pengalaman praktis mengenai jalan pulang yang diperoleh dari
kebiasaan untuk melewati rute pulang ke rumah. Oleh karena itu untuk meningkatkan
perkembangan anak, pendidik perlu:
a.
Memperluas pengetahuan praktis anak dengan memperkaya pengalaman
sehari-hari;
b.
Membantu anak memperoleh pengetahuan simbolik, dengan mewujudkan
pengalaman-pengalamannya ke dalam berbagai media seperti menggambar, melukis,
menyusun dengan menggunakan alat, bermain drama, dan menyatakan deskripsi dalam
bentuk kata-kata maupun tulisan;
c.
Memilih peralatan yang tepat untuk mewujudkan pengalaman anak. Misalnya,
untuk anak usia dibawah 2 tahun menggunakan benda-benda yang dapat disentuh dan
gerakan, tetapi ketika anak mencapai usia 2 tahun, ia mulai dapat menggunakan
suatu benda untuk mewakili benda lain dalam bermain (sebuah balok digunakan
sebagai telepon atau sendok untuk dimainkan sebagai gitar).
3.
Anak
memiliki kecepatan berkembang yang berbeda, baik antar individu, maupun antar
berbagai ranah perkembangan
Setiap anak
memiliki kekuatan, kebutuhan, dan minat yang berbeda-beda. Perbedaan inilah
yang menjadikan setiap anak unik sekaligus membuat kecepatan berkembang satu
sama lain menjadi berbeda. Apabila standar yang sama diberlakukan sama rata
maka kita akan melihat anak-anak yang putus asa karena tidak mampu mngejar
ketinggalan. Contohnya, anak yang memiliki
kebutuhan khusus biasanya lebih tertinggal
dalam pelajaran sekolah dibanding anak-anak lain seusianya yang tidak berkebutuhan
khusus. Apabila ia diharuskan mencapai hasil belajar yang sama dengan anak-anak
lain, maka ia justru akan merasa putus asa dan dapat membuatnya tidak mau
belajar lagi. Tidak hanya itu, pendidik pun juga akan merasa putus asa.
4.
Pemberian pengalaman belajar pada anak
berpengaruh terhadap maju atau tersendatnya perkembangan
anak tersebut
Banyaknya
pemberian pengalaman pada usia-usia awal seorang anak, baik positif maupun
negatif, akan memiliki dampak. Sebagai
contoh, seorang anak yang terbiasa berteman dengan anak-anak lain sejak usia
prasekolah akan cenderung lebih mudah dan lebih percaya diri untuk bersosialisasi
di usia sekolah.
5. Setiap
perkembangan memiliki periode optimal di mana
optimal atau tidaknya perkembangan suatu
ranah tergantung dari ada tidaknya pengalaman belajar yang cukup pada ranah tersebut dalam periode ini
Ada waktu-waktu
tertentu dalam rentang usia manusia, dimana beberapa jenis pembelajaran dan
perkembangan muncul paling kuat. Contohnya, tiga tahun petama dalam kehidupan
merupakan periode optimal untuk perkembangan bahasa (Kuhl 1994). Pada tiga
tahun pertama tersebut, otak manusia menyerap semua pengalaman belajar yang
berhubungan dengan perkembangan bahasa secara optimal. Walaupun anak bisa saja
menunda untuk tidak belajar bahasa pada usia ini, namun di kemudian hari ia
harus berusaha lebih keras apabila mempelajari hal-hal yang menyangkut bahasa.
Hal serupa
juga terjadi pada tahun-tahun prasekolah yang merupakan periode optimal untuk
perkembangan motorik dasar. Pada usia prasekolah, anak akan lebih mudah mempelajari
ketrampilan motorik dasar. Anak-anak yang pada usia ini mendapat banyak
kesempatan untuk melatih ketrampilan motorik kasar (seperti berlari, meloncat,
melompat) akan lebih mudah mempelajari ketrampilan motorik yang lebih kompleks
(seperti menjaga keseimbangan badan pada balok titian atau mengendarai sepeda
roda dua) di tahun-tahun selanjutnya.
6. Hasil
pengalaman belajar seringkali tidak muncul seketika itu juga, namun akan tampak
di kemudian hari
Seringkali pengalaman-pengalaman
awal seorang anak juga mempunyai efek tertunda. Efek dari pengalaman ini tidak
akan langsung terlihat tetapi akan muncul di kemudian hari. Apakah Anda pernah
menemui anak yang terbiasa diberi imbalan (seperti permen atau uang) hanya agar
ia berperilaku baik, di kemudian harinya menjadi anak yang kurang termotivasi apabila
harus melakukan sesuatu tanpa imbalan.
7.
Lingkungan
sosial dan budaya berpengaruh terhadap proses berkembang dan belajar anak
karena perkembangan dan pembelajaran anak adalah hasil interaksi antara
kematangan biologis dan lingkungan
Manusia adalah hasil dari genetik dan lingkungan yang
keduanya saling mempengaruhi. Seorang anak bisa yang seharusnya sehat secara
fisik dan genetik tidak akan berkembang optimal apabila pada tahun-tahun awal
tidak memperoleh nutrisi yang cukup. Hal ini tidak hanya tampak pada
perkembangan fisik tetapi juga dalam kepribadian. Setiap anak mempunyai
temperamen bawaaan, apakah itu cenderung tertutup atau justru terbuka, dan ini
dapat berubah tergantung dari lingkungan sekitar dan keluarganya, bagaimana
mereka berkomunikasi dengan anak tersebut.
Oleh karena setiap anak hidup dan berkembang dalam budaya
tertentu, maka seringkali masalah budaya dan kebiasaan anak di rumah menjadi
masalah di sekolah. Contohnya: seorang guru memberikan pelajaran untuk
mencintai alam dengan mengajak murid-muridnya berkebun. Keesokan harinya
orangtua dari salah satu muridnya datang dan memintanya untuk tidak mengajak
anaknya bermain tanah karena di rumah mereka bermain tanah adalah hal yang
kotor dan orangtua tersebut sangat mengutamakan kebersihan dalam keluarganya.
Ini adalah salah satu contoh bagaimana budaya dapat berbenturan dengan proses
belajar.
Sedemikian kuatnya pengaruh dari
budaya dan lingkungan sosial, maka Anda dituntut untuk mempelajari budaya anak-anak
didiknya. Sama
sekali bukan berarti Anda harus mampu memahami setiap budaya. Akan tetapi, mempelajari
berbagai budaya ini penting agar Anda mengetahui dan mampu mempertimbangkan
dari berbagai segi serta lebih fleksibel dalam memilih mana metode mengajar
yang sesuai. Anda juga tidak selalu harus menurunkan standar belajar agar
sesuai dengan kebudayaan di rumah, tetapi berkewajiban membantu anak untuk
dapat menyesuaikan diri dengan proses belajar di sekolah.
8.
Bermain
itu penting
Anak-anak
adalah individu yang aktif. Semakin interaktif suatu proses belajar, maka mereka
semakin menikmati dan justru menyerap banyak pengetahuan. Inilah sebabnya
mengapa bermain merupakan sarana yang sangat mendukung proses belajar dan
berkembang. Dengan bermain, anak mendapatkan kesempatan untuk memahami dunia,
berinteraksi dengan orang lain, mengekspresikan dan mengendalikan emosi, serta
mengembangkan kemampuan pemahaman simbol.
Mari kita lihat
beberpa manfaat dari bermain:
a.
Anak dapat mengembangkan kemampuan bahasa melaului bermain.
Sebelum memahami bahasa tertulis, anak belajar mengembangkan bahasa lisan
terlebih dahulu. Kita seringkali menemui anak bercakap-cakap dengan bonekanya
dan teman-temannya (beseeta boneka mereka juga).
b.
Anak belajar memahami simbol. Ia mulai belajar bahwa suatu
benda dapat mewakili benda lain, contohnya: batu pipih dianggap sebagai meja
ketika bermain masaka-masakan, atau sepotong balok dapat dianggap sebagai mobil
ketika bermain balapan mobil.
c.
Anak belajar berkreativitas dan menjadi lebih percaya diri.
d.
Anak belajar mengungkapkan ide dan perasaannya.
e.
Anak belajar peran-peran sosial. Dalam bermain ia belajar menyelami
berbagai peran yang ada di masyarakat. Ketika ia bermain sebagai ayah, ia
belajar bahwa ayah adalah figur yang melindungi dan bekerja mencari nafkah.
f.
Belajar berinteraksi dengan orang lain. Kita sering menemui anak-anak yang
awalnya bermain tetapi kemudian menjadi bertengkar karena keinginan yang satu
berbeda dari yang lain. Dari situ anak belajar memahami bahwa setiap orang
memiliki sifat, kebiasaan dan pemikiran yang berbeda. Mereka kemudian belajr
menahan emosi, meminta maaf, dan menyesuaikan diri dengan keinginan orang lain.
Bermain itu penting. Sediakan waktu khusus bagi murid-murid
untuk bermain. Berikan tema permainan, sediakan peralatan yang tepat, dan
terlibatlah dengan mereka untuk membantu mereka mengembangkan dan menggabungkan
ide-ide.
9.
Kesempatan
praktek dan tantangan itu penting
Anak perlu merasakan bahwa ia berhasil mengerjakan banyak
hal. Kesukesan membuat anak
termotivasi dan lebih tekun dalam menyelesaikan sesuatu. Anak yang terlalu
sering gagal cenderung akan akan berhenti berusaha. Buatlah anak mengalami
sukses dengan memberikan tugas-tugas yang dapat diselesaikan oleh anak apabila
ia berusaha.
Meskipun pengalaman sukses itu
penting, tetapi ada hal lain yang juga mereka perlukan, yaitu: tantangan. Anak-anak,
sangat termotivasi untuk mempelajari hal-hal yang hampir, tapi tidak terlalu,
mereka pahami dan kuasai, sehingga masih membuthkan bantuan orang dewasa untuk
mengerjakannya. Contohnya: anak yang baru mulai belajar menggambar
bentuk-bentuk sederhana, akan merasa tertantang bila diberi tugas membuat
gambar rumah. Tugas Anda adalah bagimana memerikan tugas-tugas yang cukup sulit
tetapi masih realistis dan tidak membuat anak menjadi frustrasi.
10. Cara belajar anak berbeda-beda
Setiap anak memiliki pendekatan belajar atau biasa disebut
modalitas belajar yang berbeda. Beberapa anak mudah menangkap suatu informasi
bila berbentuk visual (misal: dalam bentuk tulisan, bagan/skema, tulisan dengan
warna-warna yang berbeda), beberapa anak yang lain bila dalam bentuk
audio/suara (misal mendengarkan penjelasan orang lain, mendengarkan berita),
dan yang lain dalam bentuk tindakan praktis (melalui kesempatan untuk praktek
atau melakukan sendiri).
Tidak hanya modalitas belajar seseorang berbeda satu sama
lain, tetapi kecerdasan setiap orang juga berbeda. Dulu orang berpendapat anak
yang pandai apabila ia mendapat nilai baik di pelajaran-pelajaran utama
sekolah, yang banyak menekankan pada kecerdasan bahasa dan logika matematika.
Padahal disamping dua kecerdasan tersebut masih ada lima kecerdasan lain yaitu: kecerdasan musik,
spasial, gerak tubuh, intrapersonal dan interpersonal.
Dengan memahami keberagaman modalitas belajar dan kecerdasan
masing-masing anak, Anda dapat menyediakan kesempatan bagi anak-anak untuk
belajar dengan cara yang sesuai dengan kekuatannya namun juga memberikan
kesempatan untuk membantu anak membangun modalitas belajar atau kecerdasan yang
mungkin bukan kekuatannya.
11.
Lingkungan
yang aman dan menghargai anak penting dalam mendukung anak belajar dan
berkembang
Manusia tidak memikirkan mengenai mengembangkan diri apabila
kebutuhan fisik dan psikologis akan keselamatan dan rasa aman belum terpenuhi. Oleh
karena itu, pertama-tama pogram penmdidikan harus menyediakan lingkungan yang
sehat dan aman, gizi yang cukup, dan pelayanan-pelayanan kesehatan lain seperti
pelayanan kesehatan fisik, gigi, dan mental, serta pelayanan sosial.
Kebutuhan yang lain yaitu kebutuhan akan rasa aman dapat
terpenuhi melalui relasi dengan orang lain. Bila anak berada di lingkungan yang
membuatnya merasa diterima dan dihargai oleh orang lain dalam komunitas yang
berarti baginya, ia tidak tersakiti secara psikologis dan hal tersebut menimbulkan
rasa aman. Perasaan aman ini membuatnya mampu melaju untuk memenuhi kebutuhan
lain berikutnya seperti pengembangan diri.
Semua langkah di atas memang tidak
dapat menjelaskan dengan lengkap seluruh proses belajar dan berkembang yang rumit
dan kompleks. Akan tetapi, informasi tersebut dapat menjadi dasar berpijak
ketika mengambil keputusan dalam menyusun program pendidikan.
C. Panduan Dalam Menyusun Program Pendidikan
yang Berbasis Tahap Perkembangan
1.
Ciptakan
lingkungan yang penuh perhatian, saling peduli, terbuka, dan nyaman untuk belajar
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
a. Tumbuhkan hubungan yang positif dan
konsisten dengan anak-anak lain dan orang dewasa (dalam jumlah yang terbatas).
Ciptakan kebiasaan saling menghargai dalam ruang kelas sehingga anak juga
belajar untuk menghormati dan memahami perbedaan-perbedaan yang ada dan mampu
menghargai kelebihan-kelebihan tiap orang.
b. Berikan anak-anak kesempatan untuk
bermain bersama, mengerjakan tugas dalam kelompok kecil, berbicara dengan
teman-temannya atau orang dewasa. Melalui hal-hal tersebut anak belajar bahwa
kelebihan dan minatnya berpengaruh terhadap kelompoknya.
c. Lingkungan belajar harus mempunyai
tempat untuk dapat bergerak dan beraktivitas dengan leluasa namun juga
menyediakan tempat dimana mereka dapat beristirahat.
d. Berikan anak keleluasan untuk belajar
dengan berbagai cara tetapi sediakan juga kegiatan yang terjadawal dan rutin. Adanya
kedua faktor ini dalam lingkungan belajar membuat anak memahami bahwa belajar
merupakan proses yang dinamis dan terus berubah, namun tidak membuat anak
menjadi bingung atau takut karena tetap ada hal-hal/jadwal rutin yang ia
ketahui.
2.
Gunakan
metode mengajar yang tepat
Anak adalah pembelajar yang aktif. Mereka senang mencari pengalaman sendiri
dengan menjelajah dan melakukan eksperimen coba-salah, serta berinteraksi
dengan teman-temannya. Meskipun demikian, mereka tetap membutuhkan bimbingan
dan arahan dari orang dewasa. Tugas Anda
lah untuk menyeimbangkan kapan anak belajar dengan inisiatif sendiri dan kapan belajar
dengan bantuan dari orang dewasa.
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
a.
Kenali setiap anak dengan baik
1)
Dengarkan anak-anak dan berikan tanggapan yang sesuai dengan kebutuhan,
minat, karakter, dan kemampuan anak yang berbeda satu sama lain.
2)
Lakukan observasi ketika anak-ana sedang bermain spontan dan
berinteraksi dengan lingkungan serta anak-anak yang lain. Dari observasi inilah
Anda dapat mengetahui minat, kemampuan, dan kemajuan perkembangan mereka yang
akan berguna ketika akan menyusun program pendidikan.
3)
Ciptakan komunikasi yang baik dengan keluarga.
4)
Tanggaplah terhadap tanda-tanda anak tertekan dan atau adanya
peristiwa-peristiwa traumatis dalam kehidupannya. Pahami strategi-strategi yang efektif untuk
menurunkan stres dan medukung perkembangan daya tahan anak terhadap stres.
5)
Ajarkan anak kemampuan mengatur diri sendiri.
b.
Ciptakan lingkungan yang tanggap akan kebutuhan anak dan
merangsang kecerdasan
1)
Sediakan berbagai macam pengalaman, tugas/proyek, material,
permasalahan, dan ide-ide yang menarik perhatian anak dan mendorong anak untuk menjelajah
dan menyelidiki.
2)
Berikan kesempatan bagi anak untuk memilih sehingga ia dapat
belaajr mengambil keputusan dan membuat pilihan. Contohnya, memberikan waktu
kepada anak di beberapa kesempatan untuk memilih antara berpartisipasi dalam aktivitas
sendiri atau kelompok kecil. Ini juga merupakan kesempatan bagi guru untuk
membantu dan megarahkan anak-anak yang belum mampu memilih aktivitasnya
sendiri.
c.
Susunlah rencana belajar dan tujuan-tujuannya untuk setiap disiplin
ilmu yang ada dalam kurikulum.
1)
Gabungkan bermacam-macam pengalaman, material dan strategi
mengajar dalam menyusun kurikulum dan sesuaikan dengan pengalaman-pengalaman
yang dipunyai anak sebelumnya, tingkat kematangan, gaya belajar, kebutuhan, dan
minatnya.
2)
Gabungkan bahasa dan budaya dari rumah anak dengan sekolah sehingga
setiap anak dapat menyumbangkan keunikannya dan belajar untuk menghargai
perbedaan yang ada.
3)
Persiapkan diri untuk menangani anak-anak berkebutuhan
khusus, termasuk anak-anak dengan kecacatan dan mereka yang menunjukkan minat
dan ketrampilan yang tidak biasa. Dalam hal ini, Anda harus menggunakan segala
strategi, menghubungi ahli yang tepat, dan memastikan anak mendapatkan
penanganan yang dibutuhkan.
d.
Doronglah anak untuk bekerjasama menyelesaikan tugas dengan
teman-temannya
1)
Doronglah anak untuk bekerjasama tetapi jangan menjadi
terlalu dominan atau justru mengambil alih, sehingga anak akan kehilangan
minatnya.
2)
Acaklah kelompok anak sehingga mereka mendapatkan teman kerja
yang berbeda-beda.
e.
Gunakan berbagai macam strategi mengajar
1)
Berikan kesempatan anak untuk memilih dan membuat rencana
untuk aktivitas belajar agar mereka belajar berinisiatif.
2)
Ajukan pertanyaan dan komentar yang merangsang anak berpikir.
3)
Berikan perhatian dan dukungan dalam berbagai bentuk seperti pujian
dan kedekatan fisik (misal: membelai
kepala anak, memeluk, dll).
4)
Sesuaikan derajat kesulitan dengan tingkat ketrampilan dan pengetahuan
anak agar anak menjadi percaya diri bila berhasil mengejakan tugas-tugasnya.
5)
Berikan tantangan dan juga petunjuk untuk tugas-tugas sulit agar anak
termotivasi dan berani mengambil resiko.
6)
Berikan waktu dan kegiatan untuk mengulang kembali hal-hal yang telah
dipelajari.
f.
Kembangkan kemampuan anak untuk bertanggung jawab dan
mengatur diri
1)
Tetapkan standar perilaku yang diharapkan dan
peraturan-peraturan yang jelas, konsisten, dan masuk akal. Ajak anak
bersama-sama membuat peraturan, sehingga akan membuatnya lebih patuh dalam
mentaatinya.
2)
Arahkan perilaku anak dan ingatkan akan peraturan-peraturan
yang telah disepakati bersama.
3)
Amati, dengarkan dan cari tahu permasalahan utama dari
anak-anak yang bermasalah, serta berikan contoh bagaimana mereka dapat menyelesaikan
masalah-masalahnya sendiri.
3.
Susunlah
kurikulum yang tepat
a.
Buat tujuan kurikulum yang realistik.
b.
Susun kurikulum yang meliputi semua aspek perkembangan anak
yaitu: fisik, emosi, sosial, bahasa, seni dan kognitif.
c.
Perkuat pengetahuan dan ketrampilan yang telah dipunyai
anak-anak tetapi juga tambahkan pemahaman konsep dan ketrampilan-ketrampilan
baru.
d.
Gabungkan berbagai topik pembelajaran agar anak belajar
melihat dan menghunbungkan berbagai macam konsep. Contohnya, mintalah anak mencari
berbagai macam benda alam di halaman sekolah dan menghitung berapa yang berhasil
ia kumpulkan. Kegiatan ini menggabungkan pelajaran sains dengan matematika.
e.
Jangan hanya memberikan informasi, berikan anak kesempatan
untuk mempraktekkan pengetahuannya.
f.
Berikan berbagai macam bentuk tugas, seperti: mengadakan
percobaan ilmiah, menulis, mempraktekkan, menyelesaikan soal-soal Matematika,
mengumpulkan dan menganalisa data, dan mengumpulkan keterangan dengan bertanya.
g.
Ajarkan anak beradaptasi dengan budaya yang digunakan di
sekolah.
h.
Manfaatkan teknologi, seperti: komputer dan permainan elektronik.
4.
Buatlah
evaluasi atas proses dan hasil belajar anak
Ingtalah hal-hal berikut ini dalam melakukan evaluasi:
a. Evaluasi meliputi apa yang bisa
dilakukan anak secara mandiri dan apa yang dapat dikerjakannya dengan bantuan
anak atau orang dewasa lain.
b. Gunakan hasil evaluasi untuk mengetahui
sejauh mana anak berkembang dan untuk perbaikan kurikulum di kemudian hari. Evaluasi
tidak digunakan untuk memberi label/cap yang justru akan merugikan anak. Evaluasi
yang digabungkan dengan asesmen dan observasi dapat digunakan untuk mengenali
dan menangani anak berkebutuhan khusus.
c. Sesuaikan metode evaluasi dengan usia
anak. Untuk anak-anak usia dini evaluasi lebih menekankan pada hasil observasi,
data-data, hasil kerja, tindakan-tindakan mereka dalam kegiatan-kegiatan bebas,
dan masukan dari keluarga.
d. Jangan membuat keputusan yang berdampak
besar pada anak, seperti penerimaan siswa dan penempatan bersasarkan satu
evaluasi saja. Perlu sekali
menggabungkan informasi mengenai anak dari berbagai sumber yang tepat dan terutama
dari hasil observasi.
e. Dalam mengevaluasi, pertimbangkan keunikan
tiap-tiap anak dalam gaya dan kecepatan belajar.
5.
Bangunlah hubungan
timbal balik dengan keluarga
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membangun program
pendidikan yang menjalin kerjasama dengan keluarga, antara lain:
a. Bersikaplah saling menghormati,
bekerjasama, dan berbagi tanggung jawab.
b. Ciptakan komunikasi dua arah antara
sekolah dan keluarga secara terartur.
c. Libatkan orangtua dalam program dan
proses pengambilan keputusan mengenai pendidikan anak.
d. Pertimbangkan keinginan dan harapan dari
orangtua namun jangan sampai mengabaikan tanggung jawab profesional sebagai
guru terhadap anak.
e. Libatkan keluarga dalam proses
evaluasi/asesmen anak sehingga dapat diperoleh informasi yang lebih tepat dan
lengkap.
f. Hubungkan keluarga dengan
layanan-layanan tertentu sesuai dengan kebutuhan, misal: untuk anak yang
mengalami kesulitan konsentrasi, guru dapat mencari tahu dan memberikan
referensi kepada orangtua mengenai kursus belajar atau tempat terapi yang
tepat
g. Saling berbagi informasi mengenai
perkembangan anak.
D. Mengkombinasikan Pendekatan
Kita tahu ada berbagai macam pendekatan dalam mendidik anak
dan seringkali pendekatan-pendekatan tersebut saling bertentangan. Akan tetapi,
adakalanya dua strategi yang berbeda dan bertentangan tetap dibutuhkan dan
justru saling mengisi satu sama lain, contohnya:
1. Anak belajar dengan mengekspolarasi secara mandiri dan juga dengan bantuan atau instruksi dari teman-teman atau orang
dewasa lain yang kompeten.
2.
Anak memperoleh keuntungan dengan mempelajari berbagai hal
secara luas dan umum dan juga secara
spesifik dan detil.
3. Anak perlu memutuskan sendiri bagaimana mereka akan belajar
atau mengerjakan sesuatu dan juga tetap membutuhkan aturan-aturan mengenai
pilihan yang diperbolehkan dan yang tidak.
4. Anak dapat mengembangkan kemampuannya dengan bekerjasama
dengan teman-temannya dan juga
dengan bekerja sendiri menurut kekuatan, minat, dan kebutuhannya.
5. Anak perlu membangun konsep yang positif mengenai dirinya agar
dapat menghargai diri sendiri dan
juga perlu menghormati orang lain yang mungkin memiliki cara pandangan dan
pengalaman yang berbeda dengannya.
6. Anak memiliki kapasitas untuk belajar dan keingintahuan yang
besar mengenai dunia dan juga tetap
memiliki keterbatasan karena faktor kematangan/umur.
7. Anak berkembang melalui bermain spontan dengan inisiatif
sendiri dan juga melalui aktivitas
yang terstruktur dan terencana oleh guru.
E. Kebijakan Penting untuk Mencapai Program
Pendidikan Anak Usia Dini yang Sesuai Tahap Perkembangan
Semua orang yang terlibat dalam
pendidikan anak usia dini bertanggung jawab untuk melaksanakan program yang
sesuai dengan tahapan perkembangan anak-anak yang dilayani. Terlepas dari
keterbatasan sumber daya yang tersedia, mereka memiliki tanggungjawab etis
untuk berlatih dengan segenap kemampuan dan sesuai dengan standar profesi
mereka. Berikut ini kebijakan penting yang perlu diperhatikan oleh setiap
lembaga:
1. Diperlukan persiapan yang menyeluruh dan adanya sistem
pengembangan staf untukmemastikan agar program pendidikan anak usia dini
memiliki staf berkualitas:
Adanya sistem pembinaan yang berkelanjutan agar semua staf memperoleh
pengetahuan dan keterampilan praktis yang diperlukan sebagai pekerja
profesional. Mendorong
dan mendukung pendidik/pengasuh anak-anak usia dini untuk terus meningkatkan
pengetahuan dan keterampilannya melalui: (1) kajian/diskusi rutin secara
internal di tingkat lembaga (disarankan setiap hari setelah anak-anak pulang
atau sekurang-kurangnya seminggu sekali saat hari libur); (2)
bimbingan/pendampingan saat pelaksanaan tugas (terutama bagi pendidik/pengasuh
pemula) oleh pengelola, pendidik/pengasuh senior, atau konsultan ahli; (3)
diskusi/sarasehan/ lokakarya yang diselenggarakan organisasi profesi atau
perkumpulan antar lembaga di wilayahnya (misalnya dalam forum pertemuan bulanan
kelompok pendidik/pengasuh se kecamatan); (4) studi banding/magang di
lembaga-lembaga percontohan/unggulan (untuk pendidik/pengasuh pemula sebaiknya
setahun sekali); (5) pelatihan/kursus di lembaga yang terakreditasi; dan (6)
program strata di perguruan tinggi yang menye-lenggarakan program pendidikan
anak usia dini atau perkembangan anak (Program S1 PG-PAUD/Psikologi
Perkembangan). Menyediakan
staf spesialis pendidikan khusus untuk memberikan bantuan dan konsultasi dalam
memenuhi kebutuhan individu anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Selain keterampilan manajemen
dan pengawasan, pengelola program pendidikan anak usia dini wajib memiliki
kualifikasi profesional yang sesuai, termasuk pelatihan khusus di bidang
perkembangan dan pendidikan anak usia dini, serta memberikan kesempatan dan
waktu yang cukup kepada pendidik/pengasuh untuk bekerja sama dengan teman
sejawat dan orangtua.
2. Tersedia dana yang cukup untuk memastikan keberlangsungan program
pendidikan anak usia dini yang bermutu:
a. Pendanaan yang memadai
diperlukan untuk penyediaan staf secara cukup sehingga jumlah anak per kelompok
tercukupi untuk memastikan pelayanan perawatan dan pendidikan secara
individual. Untuk kelompok anak usia 4-5 tahun diperlukan 1 orang dewasa untuk
melayani 10 anak atau 2 orang dewasa untuk 20 anak. Untuk kelompok anak yang
lebih muda memerlukan rasio yang lebih kecil. Sedangkan untuk anak-anak
berkebutuhan khusus (ABK) mungkin memerlukan tambahan orang dewasa sebagai
pendamping.
b. Lembaga wajib
mengupayakan imbalan/gaji staf yang adil dan sepadan dengan keahlian dan
kualifikasi yang diperlukan untuk menjamin kualitas layanan.
c. Lembaga wajib membuat
keputusan tentang program pembinaan staf dan pengelompokkan anak-anak yang
menjamin intensitas hubungan dengan pendidik/pengasuh dan anak-anak lain.
3. Tersedia sumber daya dan keahlian tertentu yang diperlukan untuk
memberikan kepada anak rasa aman dan lingkungan belajar yang merangsang
perkembangan dengan sejumlah bahan dan peralatan yang memadai dan sesuai
kebutuhan anak menurut kelompok usia.
4. Tersedia sistem yang
memadai untuk mengatur dan memantau kualitas program pendidikan anak usia dini
5. Tersedia sumber daya masyarakat yang mendukung kebutuhan
komprehensif anak-anak dan keluarga, termasuk kebutuhan layanan kesehatan dan
gizi untuk anak-anak serta program pendidikan orangtua.
6. Tersedia program untuk membantu anak-anak secara perorangan,
terutama bagi anak yang tidak mengalami kemajuan seperti yang diharapkan.
7. Menggunakan beberapa indikator kemajuan yang mencakup semua ranah
perkembangan untuk mengevaluasi dampak program terhadap kemajuan anak-anak
serta membuat laporan berkala (rapor) kepada orang tua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar