Rabu, 18 September 2013

DAP Developmentally Appropriate Practices (TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN ANAK )

PENTINGKAH INI ???????????
Untuk Siapa?
Apakah Anda adalah seorang pendidik yang merasa dibingungkan dengan tren-tren pendidikan usia dini yang baru? Apakah Anda seorang guru yang seringkali dipusingkan dengan masalah bagaimana menyusun aktvitas-aktivitas yang optimal untuk anak? Jika ya, buku ini dipersembahkan untuk Anda. artikel ini  disusun bagi pendidik dimana saja untuk memberikan pengetahuan, pemahaman, dan strategi-strategi baru dalam membantu anak mengembangkan diri. artikel ini akan membantu Anda, para pendidik, untuk menghadapi “medan perang” Anda yang tuntutannya semakin kompleks dan beragam dan menjadikan Anda pendidik yang handal. 
Mengapa?
Program pendidikan anak usia dini telah mengalami perubahan dan semakin beragam dalam beberapa tahun belakangan ini karena banyak orang semakin menyadari pentingnya memberikan pengalaman pendidikan selama tahun-tahun awal kehidupan anak. Karakteristik pendidikan yang diberikan pun mengalami beberapa perubahan, antara lain:
1.    Suku dan budaya yang semakin beragam diantara para siswa yang menuntut pemahaman dan pendekatan pendidikan dari berbagai budaya.
2. Pendidikan yang semakin terbuka dalam memfasilitasi anak-anak dengan kebutuhan khusus seperti anak dengan berbagai ketunaan, autism, dan lain sebagainya, salah satunya dengan memperbanyak sekolah inklusi.
3.  Usia masuk sekolah yang semakin muda dan durasi kegiatan di sekolah yang semakin panjang.
Semua perubahan ini membutuhkan suatu program terobosan yang mampu memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan baru yang timbul. Tapi sebagai awal, pendidik harus mendapatkan bekal mengenai prinsip-prinsip penting mengenai perkembangan dan pembelajaran anak berdasarkan tahap perkembangan.   

B.  Prinsip-Prinsip Perkembangan dan Pembelajaran Anak Berdasarkan Tahap Perkembangan
Untuk merancang aktivitas yang sesuai dengan tahap perkembangan anak, Anda perlu mengetahui bagaimana anak berkembang dan belajar. Anda perlu memahami perubahan-perubahan yang biasa terjadi pada bayi sampai usia 8 tahun, perkembangan apa saja yang mungkin akan muncul, dan strategi yang terbaik untuk mendukung permbelajaran dan perkembangan anak pada tahun-tahun tersebut. Berikut ini adalah adalah prinsip-prinsip dasar praktis mengenai perkembangan dan pembelajaran anak yang dapat dijadikan panduan untuk mengembangkan kegiatan pendidikan yang sesuai dengan tahap perkembangan.

1.     Ranah-ranah perkembangan anak - fisik, sosial, emosi, dan kognitif – erat berhubungan satu sama lain dan saling mempengaruhi
Ketika bayi mulai belajar merangkak atau berjalan, ia memiliki kemampuan untuk semakin menggali lingkungan sekitarnya, dan apa yang ia dapat dari eksplorasinya akan berpengaruh terhadap perkembangan kognitifnya. Contoh lain, seiring dengan kemampuan bahasa anak yang semakin meningkat, ia menjadi semakin mampu untuk berelasi dengan orang-orang lain, dan semakin banyak ia berelasi dengan orang-orang lain, semakin kaya pula wawasan dan kemampuan bahasanya.
           
2.   Perkembangan muncul dalam urutan tertentu yang semakin lama semakin kompleks
Suatu kemampuan, ketrampilan, dan pengetahuan tertentu akan muncul bila kemampuan, ketrampilan, dan pengetahuan prasayaratnya telah diperoleh.  Seperti bangunan yang dibangun di atas lapisan-lapisan batu, demikian juga perkembangan. Anda perlu mengetahui kemampuan-kemampuan apa yang merupakan kemampuan dasar dan perlu berkembang terlebih dahulu sebelum mengajarkan kemampuan yang lebih tinggi . Contohnya: anak perlu belajar untuk mengenggam dengan erat sebelum ia dapat membuat coretan dengan pensil.
Anak juga belajar mulai dari hal-hal praktis sebelum akhirnya mampu memahami pengetahuan yang melibatkan simbol. Seorang anak belajar untuk menemukan jalan pulang ke rumah atau tempat-tempat lain yang familiar jauh sebelum mereka mampu memahami arti kiri dan kanan atau dapat membaca peta. Hal itu dikarenakan si anak mempunyai pengalaman praktis mengenai jalan pulang yang diperoleh dari kebiasaan untuk melewati rute pulang ke rumah. Oleh karena itu untuk meningkatkan perkembangan anak, pendidik perlu:
a.      Memperluas pengetahuan praktis anak dengan memperkaya pengalaman sehari-hari;
b.      Membantu anak memperoleh pengetahuan simbolik, dengan mewujudkan pengalaman-pengalamannya ke dalam berbagai media seperti menggambar, melukis, menyusun dengan menggunakan alat, bermain drama, dan menyatakan deskripsi dalam bentuk kata-kata maupun tulisan;
c.       Memilih peralatan yang tepat untuk mewujudkan pengalaman anak. Misalnya, untuk anak usia dibawah 2 tahun menggunakan benda-benda yang dapat disentuh dan gerakan, tetapi ketika anak mencapai usia 2 tahun, ia mulai dapat menggunakan suatu benda untuk mewakili benda lain dalam bermain (sebuah balok digunakan sebagai telepon atau sendok untuk dimainkan sebagai gitar).  

3.   Anak memiliki kecepatan berkembang yang berbeda, baik antar individu, maupun antar berbagai ranah perkembangan
Setiap anak memiliki kekuatan, kebutuhan, dan minat yang berbeda-beda. Perbedaan inilah yang menjadikan setiap anak unik sekaligus membuat kecepatan berkembang satu sama lain menjadi berbeda. Apabila standar yang sama diberlakukan sama rata maka kita akan melihat anak-anak yang putus asa karena tidak mampu mngejar ketinggalan. Contohnya, anak yang memiliki kebutuhan khusus biasanya lebih tertinggal dalam pelajaran sekolah dibanding anak-anak lain seusianya yang tidak berkebutuhan khusus. Apabila ia diharuskan mencapai hasil belajar yang sama dengan anak-anak lain, maka ia justru akan merasa putus asa dan dapat membuatnya tidak mau belajar lagi. Tidak hanya itu, pendidik pun juga akan merasa putus asa.  

4.   Pemberian pengalaman belajar pada anak berpengaruh terhadap maju atau tersendatnya perkembangan anak tersebut
Banyaknya pemberian pengalaman pada usia-usia awal seorang anak, baik positif maupun negatif,  akan memiliki dampak.  Sebagai contoh, seorang anak yang terbiasa berteman dengan anak-anak lain sejak usia prasekolah akan cenderung lebih mudah dan lebih percaya diri untuk bersosialisasi di usia sekolah.


5.    Setiap perkembangan memiliki periode optimal di mana optimal atau tidaknya  perkembangan suatu ranah tergantung dari ada tidaknya pengalaman belajar yang cukup  pada ranah tersebut dalam periode ini
Ada waktu-waktu tertentu dalam rentang usia manusia, dimana beberapa jenis pembelajaran dan perkembangan muncul paling kuat. Contohnya, tiga tahun petama dalam kehidupan merupakan periode optimal untuk perkembangan bahasa (Kuhl 1994). Pada tiga tahun pertama tersebut, otak manusia menyerap semua pengalaman belajar yang berhubungan dengan perkembangan bahasa secara optimal. Walaupun anak bisa saja menunda untuk tidak belajar bahasa pada usia ini, namun di kemudian hari ia harus berusaha lebih keras apabila mempelajari hal-hal yang menyangkut bahasa.
Hal serupa juga terjadi pada tahun-tahun prasekolah yang merupakan periode optimal untuk perkembangan motorik dasar. Pada usia prasekolah, anak akan lebih mudah mempelajari ketrampilan motorik dasar. Anak-anak yang pada usia ini mendapat banyak kesempatan untuk melatih ketrampilan motorik kasar (seperti berlari, meloncat, melompat) akan lebih mudah mempelajari ketrampilan motorik yang lebih kompleks (seperti menjaga keseimbangan badan pada balok titian atau mengendarai sepeda roda dua) di tahun-tahun selanjutnya.

6.   Hasil pengalaman belajar seringkali tidak muncul seketika itu juga, namun akan tampak di kemudian hari
Seringkali pengalaman-pengalaman awal seorang anak juga mempunyai efek tertunda. Efek dari pengalaman ini tidak akan langsung terlihat tetapi akan muncul di kemudian hari. Apakah Anda pernah menemui anak yang terbiasa diberi imbalan (seperti permen atau uang) hanya agar ia berperilaku baik, di kemudian harinya menjadi anak yang kurang termotivasi apabila harus melakukan sesuatu tanpa imbalan.        
7.    Lingkungan sosial dan budaya berpengaruh terhadap proses berkembang dan belajar anak karena perkembangan dan pembelajaran anak adalah hasil interaksi antara kematangan biologis dan lingkungan
Manusia adalah hasil dari genetik dan lingkungan yang keduanya saling mempengaruhi. Seorang anak bisa yang seharusnya sehat secara fisik dan genetik tidak akan berkembang optimal apabila pada tahun-tahun awal tidak memperoleh nutrisi yang cukup. Hal ini tidak hanya tampak pada perkembangan fisik tetapi juga dalam kepribadian. Setiap anak mempunyai temperamen bawaaan, apakah itu cenderung tertutup atau justru terbuka, dan ini dapat berubah tergantung dari lingkungan sekitar dan keluarganya, bagaimana mereka berkomunikasi dengan anak tersebut.
Oleh karena setiap anak hidup dan berkembang dalam budaya tertentu, maka seringkali masalah budaya dan kebiasaan anak di rumah menjadi masalah di sekolah. Contohnya: seorang guru memberikan pelajaran untuk mencintai alam dengan mengajak murid-muridnya berkebun. Keesokan harinya orangtua dari salah satu muridnya datang dan memintanya untuk tidak mengajak anaknya bermain tanah karena di rumah mereka bermain tanah adalah hal yang kotor dan orangtua tersebut sangat mengutamakan kebersihan dalam keluarganya. Ini adalah salah satu contoh bagaimana budaya dapat berbenturan dengan proses belajar.
            Sedemikian kuatnya pengaruh dari budaya dan lingkungan sosial, maka Anda dituntut untuk mempelajari budaya anak-anak didiknya. Sama sekali bukan berarti Anda harus mampu memahami setiap budaya. Akan tetapi, mempelajari berbagai budaya ini penting agar Anda mengetahui dan mampu mempertimbangkan dari berbagai segi serta lebih fleksibel dalam memilih mana metode mengajar yang sesuai. Anda juga tidak selalu harus menurunkan standar belajar agar sesuai dengan kebudayaan di rumah, tetapi berkewajiban membantu anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan proses belajar di sekolah.

8.         Bermain itu penting
Anak-anak adalah individu yang aktif. Semakin interaktif suatu proses belajar, maka mereka semakin menikmati dan justru menyerap banyak pengetahuan. Inilah sebabnya mengapa bermain merupakan sarana yang sangat mendukung proses belajar dan berkembang. Dengan bermain, anak mendapatkan kesempatan untuk memahami dunia, berinteraksi dengan orang lain, mengekspresikan dan mengendalikan emosi, serta mengembangkan kemampuan  pemahaman simbol. Mari kita lihat beberpa manfaat dari bermain:
a.      Anak dapat mengembangkan kemampuan bahasa melaului bermain. Sebelum memahami bahasa tertulis, anak belajar mengembangkan bahasa lisan terlebih dahulu. Kita seringkali menemui anak bercakap-cakap dengan bonekanya dan teman-temannya (beseeta boneka mereka juga).
b.      Anak belajar memahami simbol. Ia mulai belajar bahwa suatu benda dapat mewakili benda lain, contohnya: batu pipih dianggap sebagai meja ketika bermain masaka-masakan, atau sepotong balok dapat dianggap sebagai mobil ketika bermain balapan mobil. 
c.       Anak belajar berkreativitas dan menjadi lebih percaya diri.
d.      Anak belajar mengungkapkan ide dan perasaannya.
e.      Anak belajar peran-peran sosial. Dalam bermain ia belajar menyelami berbagai peran yang ada di masyarakat. Ketika ia bermain sebagai ayah, ia belajar bahwa ayah adalah figur yang melindungi dan bekerja mencari nafkah.
f.        Belajar berinteraksi dengan orang lain. Kita sering menemui anak-anak yang awalnya bermain tetapi kemudian menjadi bertengkar karena keinginan yang satu berbeda dari yang lain. Dari situ anak belajar memahami bahwa setiap orang memiliki sifat, kebiasaan dan pemikiran yang berbeda. Mereka kemudian belajr menahan emosi, meminta maaf, dan menyesuaikan diri dengan keinginan orang lain.
Bermain itu penting. Sediakan waktu khusus bagi murid-murid untuk bermain. Berikan tema permainan, sediakan peralatan yang tepat, dan terlibatlah dengan mereka untuk membantu mereka mengembangkan dan menggabungkan ide-ide.

9.         Kesempatan praktek dan tantangan itu penting
Anak perlu merasakan bahwa ia berhasil mengerjakan banyak hal. Kesukesan membuat anak termotivasi dan lebih tekun dalam menyelesaikan sesuatu. Anak yang terlalu sering gagal cenderung akan akan berhenti berusaha. Buatlah anak mengalami sukses dengan memberikan tugas-tugas yang dapat diselesaikan oleh anak apabila ia berusaha.
            Meskipun pengalaman sukses itu penting, tetapi ada hal lain yang juga mereka perlukan, yaitu: tantangan. Anak-anak, sangat termotivasi untuk mempelajari hal-hal yang hampir, tapi tidak terlalu, mereka pahami dan kuasai, sehingga masih membuthkan bantuan orang dewasa untuk mengerjakannya. Contohnya: anak yang baru mulai belajar menggambar bentuk-bentuk sederhana, akan merasa tertantang bila diberi tugas membuat gambar rumah. Tugas Anda adalah bagimana memerikan tugas-tugas yang cukup sulit tetapi masih realistis dan tidak membuat anak menjadi frustrasi.

10.    Cara belajar anak berbeda-beda
Setiap anak memiliki pendekatan belajar atau biasa disebut modalitas belajar yang berbeda. Beberapa anak mudah menangkap suatu informasi bila berbentuk visual (misal: dalam bentuk tulisan, bagan/skema, tulisan dengan warna-warna yang berbeda), beberapa anak yang lain bila dalam bentuk audio/suara (misal mendengarkan penjelasan orang lain, mendengarkan berita), dan yang lain dalam bentuk tindakan praktis (melalui kesempatan untuk praktek atau melakukan sendiri).
Tidak hanya modalitas belajar seseorang berbeda satu sama lain, tetapi kecerdasan setiap orang juga berbeda. Dulu orang berpendapat anak yang pandai apabila ia mendapat nilai baik di pelajaran-pelajaran utama sekolah, yang banyak menekankan pada kecerdasan bahasa dan logika matematika. Padahal disamping dua kecerdasan tersebut masih ada lima kecerdasan lain yaitu: kecerdasan musik, spasial, gerak tubuh, intrapersonal dan interpersonal.
Dengan memahami keberagaman modalitas belajar dan kecerdasan masing-masing anak, Anda dapat menyediakan kesempatan bagi anak-anak untuk belajar dengan cara yang sesuai dengan kekuatannya namun juga memberikan kesempatan untuk membantu anak membangun modalitas belajar atau kecerdasan yang mungkin bukan kekuatannya.
           
11.      Lingkungan yang aman dan menghargai anak penting dalam mendukung anak belajar dan berkembang
Manusia tidak memikirkan mengenai mengembangkan diri apabila kebutuhan fisik dan psikologis akan keselamatan dan rasa aman belum terpenuhi. Oleh karena itu, pertama-tama pogram penmdidikan harus menyediakan lingkungan yang sehat dan aman, gizi yang cukup, dan pelayanan-pelayanan kesehatan lain seperti pelayanan kesehatan fisik, gigi, dan mental, serta pelayanan sosial.
Kebutuhan yang lain yaitu kebutuhan akan rasa aman dapat terpenuhi melalui relasi dengan orang lain. Bila anak berada di lingkungan yang membuatnya merasa diterima dan dihargai oleh orang lain dalam komunitas yang berarti baginya, ia tidak tersakiti secara psikologis dan hal tersebut menimbulkan rasa aman. Perasaan aman ini membuatnya mampu melaju untuk memenuhi kebutuhan lain berikutnya seperti pengembangan diri.


            Semua langkah di atas memang tidak dapat menjelaskan dengan lengkap seluruh proses belajar dan berkembang yang rumit dan kompleks. Akan tetapi, informasi tersebut dapat menjadi dasar berpijak ketika mengambil keputusan dalam menyusun program pendidikan.

C.  Panduan Dalam Menyusun Program Pendidikan yang Berbasis Tahap Perkembangan

1.     Ciptakan lingkungan yang penuh perhatian, saling peduli, terbuka, dan nyaman untuk belajar
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
a.     Tumbuhkan hubungan yang positif dan konsisten dengan anak-anak lain dan orang dewasa (dalam jumlah yang terbatas). Ciptakan kebiasaan saling menghargai dalam ruang kelas sehingga anak juga belajar untuk menghormati dan memahami perbedaan-perbedaan yang ada dan mampu menghargai kelebihan-kelebihan tiap orang.
b.    Berikan anak-anak kesempatan untuk bermain bersama, mengerjakan tugas dalam kelompok kecil, berbicara dengan teman-temannya atau orang dewasa. Melalui hal-hal tersebut anak belajar bahwa kelebihan dan minatnya berpengaruh terhadap kelompoknya.
c.     Lingkungan belajar harus mempunyai tempat untuk dapat bergerak dan beraktivitas dengan leluasa namun juga menyediakan tempat dimana mereka dapat beristirahat.
d.     Berikan anak keleluasan untuk belajar dengan berbagai cara tetapi sediakan juga kegiatan yang terjadawal dan rutin. Adanya kedua faktor ini dalam lingkungan belajar membuat anak memahami bahwa belajar merupakan proses yang dinamis dan terus berubah, namun tidak membuat anak menjadi bingung atau takut karena tetap ada hal-hal/jadwal rutin yang ia ketahui.

2.         Gunakan metode mengajar yang tepat
Anak adalah pembelajar yang aktif.  Mereka senang mencari pengalaman sendiri dengan menjelajah dan melakukan eksperimen coba-salah, serta berinteraksi dengan teman-temannya. Meskipun demikian, mereka tetap membutuhkan bimbingan dan arahan dari orang dewasa.  Tugas Anda lah untuk menyeimbangkan kapan anak belajar dengan inisiatif sendiri dan kapan belajar dengan bantuan dari orang dewasa.
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
a.      Kenali setiap anak dengan baik
1)      Dengarkan anak-anak dan berikan tanggapan yang sesuai dengan kebutuhan, minat, karakter, dan kemampuan anak yang berbeda satu sama lain.
2)     Lakukan observasi ketika anak-ana sedang bermain spontan dan berinteraksi dengan lingkungan serta anak-anak yang lain. Dari observasi inilah Anda dapat mengetahui minat, kemampuan, dan kemajuan perkembangan mereka yang akan berguna ketika akan menyusun program pendidikan.
3)     Ciptakan komunikasi yang baik dengan   keluarga.
4)     Tanggaplah terhadap tanda-tanda anak tertekan dan atau adanya peristiwa-peristiwa traumatis dalam kehidupannya.  Pahami strategi-strategi yang efektif untuk menurunkan stres dan medukung perkembangan daya tahan anak terhadap stres.
5)     Ajarkan anak kemampuan mengatur diri sendiri.

b.      Ciptakan lingkungan yang tanggap akan kebutuhan anak dan merangsang kecerdasan
1)      Sediakan berbagai macam pengalaman, tugas/proyek, material, permasalahan, dan ide-ide yang menarik perhatian anak dan mendorong anak untuk menjelajah dan menyelidiki.
2)     Berikan kesempatan bagi anak untuk memilih sehingga ia dapat belaajr mengambil keputusan dan membuat pilihan. Contohnya, memberikan waktu kepada anak di beberapa kesempatan untuk memilih antara berpartisipasi dalam aktivitas sendiri atau kelompok kecil. Ini juga merupakan kesempatan bagi guru untuk membantu dan megarahkan anak-anak yang belum mampu memilih aktivitasnya sendiri.
   
c.       Susunlah rencana belajar dan tujuan-tujuannya untuk setiap disiplin ilmu yang ada dalam kurikulum.
1)      Gabungkan bermacam-macam pengalaman, material dan strategi mengajar dalam menyusun kurikulum dan sesuaikan dengan pengalaman-pengalaman yang dipunyai anak sebelumnya, tingkat kematangan, gaya belajar, kebutuhan, dan minatnya.
2)     Gabungkan bahasa dan budaya dari rumah anak dengan sekolah sehingga setiap anak dapat menyumbangkan keunikannya dan belajar untuk menghargai perbedaan yang ada.
3)     Persiapkan diri untuk menangani anak-anak berkebutuhan khusus, termasuk anak-anak dengan kecacatan dan mereka yang menunjukkan minat dan ketrampilan yang tidak biasa. Dalam hal ini, Anda harus menggunakan segala strategi, menghubungi ahli yang tepat, dan memastikan anak mendapatkan penanganan yang dibutuhkan.

d.      Doronglah anak untuk bekerjasama menyelesaikan tugas dengan teman-temannya
1)      Doronglah anak untuk bekerjasama tetapi jangan menjadi terlalu dominan atau justru mengambil alih, sehingga anak akan kehilangan minatnya.
2)     Acaklah kelompok anak sehingga mereka mendapatkan teman kerja yang berbeda-beda.

e.      Gunakan berbagai macam strategi mengajar
1)      Berikan kesempatan anak untuk memilih dan membuat rencana untuk aktivitas belajar agar mereka belajar berinisiatif.
2)     Ajukan pertanyaan dan komentar yang merangsang anak berpikir.
3)     Berikan perhatian dan dukungan dalam berbagai bentuk seperti pujian dan  kedekatan fisik (misal: membelai kepala anak, memeluk, dll).
4)     Sesuaikan derajat kesulitan dengan tingkat ketrampilan dan pengetahuan anak agar anak menjadi percaya diri bila berhasil mengejakan tugas-tugasnya.
5)     Berikan tantangan dan juga petunjuk untuk tugas-tugas sulit agar anak termotivasi dan berani mengambil resiko.
6)     Berikan waktu dan kegiatan untuk mengulang kembali hal-hal yang telah dipelajari.
     
f.        Kembangkan kemampuan anak untuk bertanggung jawab dan mengatur diri
1)      Tetapkan standar perilaku yang diharapkan dan peraturan-peraturan yang jelas, konsisten, dan masuk akal. Ajak anak bersama-sama membuat peraturan, sehingga akan membuatnya lebih patuh dalam mentaatinya.
2)     Arahkan perilaku anak dan ingatkan akan peraturan-peraturan yang telah disepakati bersama.
3)     Amati, dengarkan dan cari tahu permasalahan utama dari anak-anak yang bermasalah, serta berikan contoh bagaimana mereka dapat menyelesaikan masalah-masalahnya sendiri.
     
3.   Susunlah kurikulum yang tepat

a.      Buat tujuan kurikulum yang realistik.
b.      Susun kurikulum yang meliputi semua aspek perkembangan anak yaitu: fisik, emosi, sosial, bahasa, seni dan kognitif.
c.       Perkuat pengetahuan dan ketrampilan yang telah dipunyai anak-anak tetapi juga tambahkan pemahaman konsep dan ketrampilan-ketrampilan baru.
d.      Gabungkan berbagai topik pembelajaran agar anak belajar melihat dan menghunbungkan berbagai macam konsep. Contohnya, mintalah anak mencari berbagai macam benda alam di halaman sekolah dan menghitung berapa yang berhasil ia kumpulkan. Kegiatan ini menggabungkan pelajaran sains dengan matematika.
e.      Jangan hanya memberikan informasi, berikan anak kesempatan untuk mempraktekkan pengetahuannya.
f.        Berikan berbagai macam bentuk tugas, seperti: mengadakan percobaan ilmiah, menulis, mempraktekkan, menyelesaikan soal-soal Matematika, mengumpulkan dan menganalisa data, dan mengumpulkan keterangan dengan bertanya.
g.      Ajarkan anak beradaptasi dengan budaya yang digunakan di sekolah.
h.     Manfaatkan teknologi, seperti: komputer dan permainan elektronik.

4.   Buatlah evaluasi atas proses dan hasil belajar anak
Ingtalah hal-hal berikut ini dalam melakukan evaluasi:
a.     Evaluasi meliputi apa yang bisa dilakukan anak secara mandiri dan apa yang dapat dikerjakannya dengan bantuan anak atau orang dewasa lain.
b.     Gunakan hasil evaluasi untuk mengetahui sejauh mana anak berkembang dan untuk perbaikan kurikulum di kemudian hari. Evaluasi tidak digunakan untuk memberi label/cap yang justru akan merugikan anak. Evaluasi yang digabungkan dengan asesmen dan observasi dapat digunakan untuk mengenali dan menangani anak berkebutuhan khusus.
c.      Sesuaikan metode evaluasi dengan usia anak. Untuk anak-anak usia dini evaluasi lebih menekankan pada hasil observasi, data-data, hasil kerja, tindakan-tindakan mereka dalam kegiatan-kegiatan bebas, dan masukan dari keluarga.
d.     Jangan membuat keputusan yang berdampak besar pada anak, seperti penerimaan siswa dan penempatan bersasarkan satu evaluasi saja.  Perlu sekali menggabungkan informasi mengenai anak dari berbagai sumber yang tepat dan terutama dari hasil observasi.
e.      Dalam mengevaluasi, pertimbangkan keunikan tiap-tiap anak dalam gaya dan kecepatan belajar.

5.          Bangunlah hubungan timbal balik dengan keluarga
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membangun program pendidikan yang menjalin kerjasama dengan keluarga, antara lain:
a.     Bersikaplah saling menghormati, bekerjasama, dan berbagi tanggung jawab.
b.    Ciptakan komunikasi dua arah antara sekolah dan keluarga secara terartur.
c.     Libatkan orangtua dalam program dan proses pengambilan keputusan mengenai pendidikan anak.
d.     Pertimbangkan keinginan dan harapan dari orangtua namun jangan sampai mengabaikan tanggung jawab profesional sebagai guru terhadap anak.
e.     Libatkan keluarga dalam proses evaluasi/asesmen anak sehingga dapat diperoleh informasi yang lebih tepat dan lengkap.
f.       Hubungkan keluarga dengan layanan-layanan tertentu sesuai dengan kebutuhan, misal: untuk anak yang mengalami kesulitan konsentrasi, guru dapat mencari tahu dan memberikan referensi kepada orangtua mengenai kursus belajar atau tempat terapi yang tepat  
g.     Saling berbagi informasi mengenai perkembangan anak.

D. Mengkombinasikan Pendekatan
Kita tahu ada berbagai macam pendekatan dalam mendidik anak dan seringkali pendekatan-pendekatan tersebut saling bertentangan. Akan tetapi, adakalanya dua strategi yang berbeda dan bertentangan tetap dibutuhkan dan justru saling mengisi satu sama lain, contohnya:
1.   Anak belajar dengan mengekspolarasi secara mandiri dan juga dengan bantuan atau instruksi dari teman-teman atau orang dewasa lain yang kompeten.
2.      Anak memperoleh keuntungan dengan mempelajari berbagai hal secara luas dan umum dan juga secara spesifik dan detil.
3.  Anak perlu memutuskan sendiri bagaimana mereka akan belajar atau mengerjakan sesuatu dan  juga tetap membutuhkan aturan-aturan mengenai pilihan yang diperbolehkan dan yang tidak.
4.  Anak dapat mengembangkan kemampuannya dengan bekerjasama dengan teman-temannya dan juga dengan bekerja sendiri menurut kekuatan, minat, dan kebutuhannya.
5.    Anak perlu membangun konsep yang positif mengenai dirinya agar dapat menghargai diri sendiri dan juga perlu menghormati orang lain yang mungkin memiliki cara pandangan dan pengalaman yang berbeda dengannya.
6.   Anak memiliki kapasitas untuk belajar dan keingintahuan yang besar mengenai dunia dan juga tetap memiliki keterbatasan karena faktor kematangan/umur.
7.  Anak berkembang melalui bermain spontan dengan inisiatif sendiri dan juga melalui aktivitas yang terstruktur dan terencana oleh guru.

E. Kebijakan Penting untuk Mencapai Program Pendidikan Anak Usia Dini yang Sesuai Tahap Perkembangan
Semua orang yang terlibat dalam pendidikan anak usia dini bertanggung jawab untuk melaksanakan program yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak-anak yang dilayani. Terlepas dari keterbatasan sumber daya yang tersedia, mereka memiliki tanggungjawab etis untuk berlatih dengan segenap kemampuan dan sesuai dengan standar profesi mereka. Berikut ini kebijakan penting yang perlu diperhatikan oleh setiap lembaga:
1.     Diperlukan persiapan yang menyeluruh dan adanya sistem pengembangan staf untukmemastikan agar program pendidikan anak usia dini memiliki staf berkualitas:  Adanya sistem pembinaan yang berkelanjutan agar semua staf memperoleh pengetahuan dan keterampilan praktis yang diperlukan sebagai pekerja profesional.  Mendorong dan mendukung pendidik/pengasuh anak-anak usia dini untuk terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya melalui: (1) kajian/diskusi rutin secara internal di tingkat lembaga (disarankan setiap hari setelah anak-anak pulang atau sekurang-kurangnya seminggu sekali saat hari libur); (2) bimbingan/pendampingan saat pelaksanaan tugas (terutama bagi pendidik/pengasuh pemula) oleh pengelola, pendidik/pengasuh senior, atau konsultan ahli; (3) diskusi/sarasehan/ lokakarya yang diselenggarakan organisasi profesi atau perkumpulan antar lembaga di wilayahnya (misalnya dalam forum pertemuan bulanan kelompok pendidik/pengasuh se kecamatan); (4) studi banding/magang di lembaga-lembaga percontohan/unggulan (untuk pendidik/pengasuh pemula sebaiknya setahun sekali); (5) pelatihan/kursus di lembaga yang terakreditasi; dan (6) program strata di perguruan tinggi yang menye-lenggarakan program pendidikan anak usia dini atau perkembangan anak (Program S1 PG-PAUD/Psikologi Perkembangan).  Menyediakan staf spesialis pendidikan khusus untuk memberikan bantuan dan konsultasi dalam memenuhi kebutuhan individu anak-anak berkebutuhan khusus (ABK).  Selain keterampilan manajemen dan pengawasan, pengelola program pendidikan anak usia dini wajib memiliki kualifikasi profesional yang sesuai, termasuk pelatihan khusus di bidang perkembangan dan pendidikan anak usia dini, serta memberikan kesempatan dan waktu yang cukup kepada pendidik/pengasuh untuk bekerja sama dengan teman sejawat dan orangtua. 
2.     Tersedia dana yang cukup untuk memastikan keberlangsungan program pendidikan anak usia dini yang bermutu: 
a.    Pendanaan yang memadai diperlukan untuk penyediaan staf secara cukup sehingga jumlah anak per kelompok tercukupi untuk memastikan pelayanan perawatan dan pendidikan secara individual. Untuk kelompok anak usia 4-5 tahun diperlukan 1 orang dewasa untuk melayani 10 anak atau 2 orang dewasa untuk 20 anak. Untuk kelompok anak yang lebih muda memerlukan rasio yang lebih kecil. Sedangkan untuk anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) mungkin memerlukan tambahan orang dewasa sebagai pendamping.
b.   Lembaga wajib mengupayakan imbalan/gaji staf yang adil dan sepadan dengan keahlian dan kualifikasi yang diperlukan untuk menjamin kualitas layanan.
c.    Lembaga wajib membuat keputusan tentang program pembinaan staf dan pengelompokkan anak-anak yang menjamin intensitas hubungan dengan pendidik/pengasuh dan anak-anak lain.
3.     Tersedia sumber daya dan keahlian tertentu yang diperlukan untuk memberikan kepada anak rasa aman dan lingkungan belajar yang merangsang perkembangan dengan sejumlah bahan dan peralatan yang memadai dan sesuai kebutuhan anak menurut kelompok usia.
4.      Tersedia sistem yang memadai untuk mengatur dan memantau kualitas program pendidikan anak usia dini
5.     Tersedia sumber daya masyarakat yang mendukung kebutuhan komprehensif anak-anak dan keluarga, termasuk kebutuhan layanan kesehatan dan gizi untuk anak-anak serta program pendidikan orangtua.
6.     Tersedia program untuk membantu anak-anak secara perorangan, terutama bagi anak yang tidak mengalami kemajuan seperti yang diharapkan.
7.     Menggunakan beberapa indikator kemajuan yang mencakup semua ranah perkembangan untuk mengevaluasi dampak program terhadap kemajuan anak-anak serta membuat laporan berkala (rapor) kepada orang tua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar