Laman

Minggu, 15 September 2013

CALISTUNG UNTUK ANAK USIA DINI

PRO-KONTRA PENGAJARAN CA-LIS-TUNG DI PAUD

Masalah Calistung di jenjang PAUD seharusnya sudah selesai mengingat kebijakan pemerintah sudah jelas bahwa kemampuan Calistung tidak menjadi beban kurikulum di jenjang PAUD.  Hal ini dimaksudkan agar anak-anak di PAUD tidak tidak terjebak pada pembelajaran yang bersifak akademik. Namun untuk menjawab pertanyaan, “Bolehkah PAUD mengajarkan Calistung?”  Jawabannya tidak cukup dengan kata “tidak” atau “boleh”, tetapi harus disertai argumentasi yang mendasari: “boleh jika ...” atau “tidak boleh jika...”.  Dalam kaitan ini seorang psikolog kawakan yang juga mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Fuad Hasan (Tedjasaputra 2001: xii) mengingatkan:
“...apa perlu anak usia tiga tahun sudah kecanduan membaca? Apa kemahiran berhitung pada usia tiga tahun sudah berfungsi dalam interaksi antara si anak dengan lingkungannya (social arithmetic)? Apa tidak ada permainan yang lebih baik bagi perkembangan fungsi kognitif dan motorik anak usia 3 tahun dibandingkan dengan kecanduan bermain ‘games’ pada komputer?”
Orang awam memang mudah terkesan oleh pembelajaran yang dipercepat yang menghasilkan anak “cepat pintar atau terampil”. Mereka kurang peduli terhadap prosesnya, yang penting hasilnya. Hal ini tentu bertentangan dengan prinsip pembelajaran di PAUD yang lebih mengutamakan proses daripada hasil.  Pembelajaran pada jenjang PAUD harus sesuai dengan tahapan perkembangan anak atau dalam istilah asing disebut Developmentally Appropriate Practices (DAP). DAP menggariskan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak. Tujuannya adalah untuk membantu proses perkembangan yang sedang berlangsung (Carol Copple and Sue Bredekamp 2006: 3). Walaupun anak bisa diajarkan Calistung dengan cara “drilling” seperti yang banyak dilakukan oleh para pendidik yang belum memahami esensi PAUD, namun bukan berarti hal itu boleh dilakukan.  Pembelajaran Calistung yang dilakukan dengan menggunakan pola seperti ini, justeru akan merugikan perkembangan anak itu sendiri.
Lantas, apakah Calistung tidak boleh diajarkan di PAUD?  Jawabannya adalah “boleh”, asal dilakukan oleh guru yang berkompeten dengan cara yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang bersangkutan.  Hal ini mengingat bahwa tingkat kesiapan Calistung antar anak berbeda-beda, sehingga jika mau dilakukan di jenjang PAUD harus dilakukan secara individual dengan melihat kesiapan anak yang bersangkutan.  Untuk mencapai tingkat kesiapan, banyak persyaratan yang harus dipenuhi.  Selain faktor kematangan biologis, banyak lagi indikator kesiapan yang harus dipenuhi.  Misalnya: anak dikatakan siap membaca jika anak telah memiliki pemahaman fonem, fonemik, fonologis, dan tulisan (Gearge S. Morrison, 2012: 262).  Anak dikatakan siap menulis jika jemarinya sudah cukup kuat untuk memegang alat tulis dalam jangka waktu tertentu, gerakan motorik halusnya sudah mampu negarahkan  goresan, dan emosinya sudah terkendali untuk melakukan pekerjaan ini. Sedangkan dikatakan siap berhitung jika anak sudah mulai memiliki pemahaman tentang konsep bilangan.  Itu pun harus dilakukan dengan menggunakan benda konkrit.
Kata-kata pertama dan buku pertama anak harus dibuat sendiri oleh anak.  Kata-kata itu harus bermakna dan menjadi bagian dari kehidupannya seperti namanya sendiri, nama benda kesukaannya, nama anggota keluarganya, dan nama-nama benda di sekitarnya.  Buku pertamanya bisa dibuat dari kumpulan hasil karya tahapan menulis yang ia lakukan, mulai dari coret-coretan bebas, coretan terarah, huruf-huruf acak, menulis namanya, mencontoh kata-kata di lingkungannya, hingga akhirnya menemukan ejaan.  Semua itu harus dilakukan secara alami, sesuai dengan kesiapan anak.  Kesiapan ini umumnya muncul sekitar usia 5, 6, atau 7 tahun. Hal ini tergantung dari faktor genetik dan dukungan lingkungan terhadap program keaksaraan. Penguasaan kosa-kata dan bahasa anak juga sangat mempengaruhi kesiapan anak. Pemerintah Amerika Serikat menetapkan target bahwa semua anak harus bisa membaca dan menulis pada kelas 3 sekolah dasar (Gearge S. Morrison, 2012: 260).
Program keaksaraan sebaiknya secara alami telah dimulai sejak anak dilahirkan.  Pengenalan keaksaraan ini dialami oleh anak saat melihat tulisan di buku, majalah, papan reklame, TV, dan media lainnya.  Semua itu akan terekam di otak anak, sehingga saat diajarkan dengan mudah ia memahaminya.
Perdasarkan Permendiknas nomor 58 Tahun 2009 tentang Standar PAUD, tingkat pencapaian perkembangan pada aspek bahasa sub aspek keaksaraan untuk kelompok anak usia 5-6 tahun mencakup:
  1. Menyebutkan simbol-simbol huruf yang dikenal.
  2. Mengenal suara huruf awal dari nama benda-benda yang ada di sekitarnya.
  3. Menyebutkan kelompok gambar yang memiliki bunyi/huruf awal yang sama.
  4. Memahami hubungan antara bunyi dan bentuk huruf.
  5. Membaca nama sendiri.
  6. Menulis nama sendiri.
Kutipan di atas menunjukkan bahwa tuntutan standar nasional dalam pembelajaran PAUD kelompok usia 5-6 tahun yang di tingkat Taman Kanak-kanak disebut kelas B yang merupakan kelompok transisi menuju SD tidaklah berat.  Hal ini baru sekedar munculnya keaksaraan melalui kesadaran simbol, kesadaran bunyi, pengenalan huruf-huruf awal benda, hingga akhirnya mampu membaca dan menulis namanya sendiri.  Bahwa ada anak yang sudah mampu memaca dan menulis dengan lancar, sepanjang dilakukan secara alami sesuai dengan tahapan perkembangan anak, maka syah-syah saja.  Namun jika pendidik belum mampu melakukannya secara benar, lebih baik pengajaran Calistung dilakukan di SD kelas awal.
Jika dikaitkan dengan ilmu perkembangan otak, pembelajaran yang tidak sesuai dengan perkembangan anak, dalam jangka panjang justeru sangat merugikan anak yang bersangkutan.  Pada rentang usia dini, anak mengalami ledakan perkembangan otak yang luar biasa.  Dengan modal saat dilahirkan memiliki sekitar 100 milyar sel otak, pada usia 2 tahun sel-sel tersebut telah membentuk jaringan serabut sambungan antar sel hingga berpotensi mencapai 1.500 trilyun sambungan.  Ledakan tersebut antara lain ditandai oleh tumbuh-suburnya percabangan dendrit dan ujung akson serta terbentuknya mielin (selubung akson) dan sinapsis (sambungan antar sel otak).  Optimalisasi ledakan tersebut terjadi jika anak mengalami banjir pengalaman indera, terpenuhinya gizi, terawatnya kesehatan, diperolehnya pengasuhan penuh kasih sayang, dan terlindunginya anak dari berbagai ancaman dan gangguan.  Sebaliknya, jika anak kurang disentuh atau memperoleh perlakuan yang tidak sesuai dengan kebutuhan perkembangannya, maka selain perkembangan jaringan otaknya tidak optimal, jaringan yang sudah terbentuk pun dapat mengalami  atrofi.  Dengan demikian baik secara kuantitas maupun kualitas, jaringan yang terbentuk menjadi berkurang dan lemah.  Hal ini akan sangat berpengaruh terhadap kapasitas kecerdasannya.
Paul MacLean dalam CCCRT (2005: 19) dengan teorinya yang dikenal dengan sebutan tiga dalam satu otak (three in one brain) mengungkapkan bahwa jika anak belajar dalam kondisi tidak aman atau merasa tidak nyaman, maka batang otaknya akan bereaksi dengan melawan atau menghindar.  Sebaliknya, jika anak dalam kondisi aman dan merasa diterima oleh lingkungannya, maka sistem limbik sebagai pusat emosi akan bereaksi membentuk emosi positif.  Dalam kondisi ini korteksnya sebagai pusat berfikir siap bekerja atau dengan kata lain anak siap belajar.
Menurut Johnson (2010: 2), jika kegiatan di sekolah menghasilkan perasaan negatif, kebosanan, bersifat hafalan atau kurangnya rangsangan yang bersifat gerakan, maka sel-sel otak anak akan membentuk asosiasi negatif yang permanen dengan kegiatan sekolah.
Bagaimana seharusnya anak belajar? Toritisi perkembangan seperti Rousseau sebagaimana dikutip Brewer (2007: 2) mengibaratkan anak seperti benih apel yang berisi semua elemen untuk menghasilkan buah apel yang luar biasa jika diberi pupuk yang tepat, diberi cukup air, mendapat sinar matahari, serta memiliki iklim yang sesuai.  Dalam hal ini peran guru adalah sebagai petaninya. Piaget (1972) mengungkapkan bahwa agar anak memahami sesuatu, ia harus membangun pengertian dan menemukannya sendiri. Dalam hal ini peran guru sebagai fasilitator. Vygotsky dalam Hary Daniels (2008:35-45) menggambarkan belajar sebagai mengkonstruksi pengetahuan dalam kontek sosial.  Jika anak memperoleh bimbingan dan bantuan dari mitra yang lebih dewasa, maka ia dapat mencapai tingkat perkembangan yang lebih tinggi daripada apa yang mampu diperolehnya tanpa bantuan orang lain.  Dalam hal ini peran guru sebagai pembimbing.
Terkait dengan Calistung, tujuan utama pembelajarannya membuat anak senang membaca, bukan sekedar bisa membaca; membuat anak senang menulis, bukan sekedar bisa menulis; dan membuat anak senang berhitung, bukan sekedar bisa berhitung.  Sedangkan kaitannya dengan sekolah, tujuan utama PAUD adalah membuat anak senang bersekolah.  Masa bersekolah anak panjang, sehingga janganlah dulu dibebani muatan kurikulum yang belum saatnya yang justeru akan menciptakan rasa kebencian terhadap institusi sekolah.
Untuk mengantisipasi terjadinya pemaksaan Calistung pada jenjang PAUD, pemerintah melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan dengan tegas melarang adanya tes sebagai persyaratan penerimaan peserta didik SD/MI. Larangan tersebut tertuang dalam pasal 69 ayat 5 yang berbunyi, “Penerimaan peserta didik kelas 1 SD/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk tes lain”.
Selanjutnya disebutkan:
(1)  Dalam hal jumlah calon peserta didik melebihi daya tampung satuan pendidikan, maka pemilihan peserta didik pada SD/MI berdasarkan pada usia calon peserta didik dengan prioritas dari yang paling tua.
(2)  Jika usia calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sama, maka penentuan peserta didik didasarkan pada jarak tempat tinggal calon peserta didik yang paling dekat dengan satuan pendidikan.
(3)  Jika usia dan/atau jarak tempat tinggal calon peserta didik dengan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sama, maka peserta didik yang mendaftar lebih awal diprioritaskan.
  
CONTOH KEGIATAN PEMBELAJARAN CALISTUNG YANG MENYENANGKAN BAGI ANAK DI KB 'AISYIYAH PURWOREJO
                                            BERMAIN KARTU GAMBAR DAN KATA
                      MENCARI KATA DENGAN AWALAN /AKHIRAN YANG SAMA
MENYEBUTKAN HASIL PENAMBAHAN DAN PENGURANGAN DENGAN GAMBAR
                                                       BERMAIN KARTU DOMINO
                                                                 (MEMBILANG)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar