MACAM MACAM POLA ASUH BAGI ANAK
Dalam pola asuh ini orang tua menerapkan seperangkat
peraturan kepada anaknya secara ketat dan sepihak, cenderung menggun akan
pendekatan yang bersifat diktator, menonjolkan wibawa, menghendaki ketaatan
mutlak. Anak harus tunduk dan patuh terhadap kemauan orang tua. Apapun yang dilakukan
oleh anak ditentukan oleh
orang tua. Anak tidak mempunyai pilihan dalam melak ukan
kegiatan yang ia inginkan, karena semua sudah ditentukan oleh orang tua. Tugas
dan kewajiban orang tua tidak sulit, tinggal menentukan apa yang diinginkan dan
h arus dilakukan atau yang tidak boleh dilakukan oleh anak.
Selain itu, mereka
beranggapan bahwa orang tua harus bertanggungjawab penuh terhadap perilaku anak
dan menjadi orang tua yang otoriter merupakan jaminan bahwa anak akan berperilaku baik. Orang
tua yakin bahwa perilaku anak dapat diubah sesuai dengan keinginan orang tua dengan
cara memaksakan keyakinan, nilai, perilaku dan standar perilaku kep ada anak.
Anak yang dibesarkan dalam keluarga otoriter cenderung merasa tertekan, dan
penurut. Mereka tidak mampu mengendalikan diri, kurang dapat berpikir, kurang
percaya diri, tidak bisa mandiri, kurang kreatif, kurang dewasa dalam
perkembangan moral, dan rasa ingin tahunya rendah. Dengan demikian pengasuhan
yang otoriter akan berdampak negatif terhadap perkembangan anak kelak yang pada
gilirannya anak sulit mengembangkan potensi yang dimiliki, karena harus
mengikuti apa yang dikehendaki orangtua, walau bertentangan dengan keinginan
anak. Pola asuh ini juga dapat menyebabkan anak menjadi depresi dan stres
karena selalu ditekan dan dipaksa untuk menurut apa kata orangtua, padahal
mereka tidak menghendaki. Untuk itu sebaiknya setiap orangtua menghindari
penerapan pola asuh otoriter ini.
Pola asuh ini memperlihatkan bahwa orang tua cenderung
memberikan banyak kebebasan kepada anaknya dan kurang memberikan kontrol. Orang
tua banyak bersikap membiarkan apa saja yang dilakukan anak.
Orangtua bersikap damai dan selalu menyerah pada anak, untuk menghindari
konfrontasi.Orang tua kurang memberikan bimbingan dan arahan kepada anak. Anak
dibiarkan berbuat sesuka hatinya untuk melakukan apa saja yang mereka inginkan.
Orang tuatidak peduli apakah anaknya melakukan hal-hal yang positif atau
negatif, yang penting hubungan antara anak dengan orang tua baik-baik saja,
dalam arti tidak terjadikonflik dan tidak ada masalah antara keduanya.Pola
permisif adalah pola dimana orang tua tidak mau terlibat dan tidak mau pula
pusing-pusing memedulikan kehidupan anaknya. Jangan salahkan bila anak menganggap
bahwa aspek-aspek lain dalam kehidupan orang tuanya lebih penting daripada
keberadaan dirinya. Walaupun tinggal di bawah atap yang sama, bisa jadiorang
tua tidak begitu tahu perkembangan anaknya. menimbulkan serangkaian dampak
buruk. Di antaranya anak akan mempunyai harga diri yang rendah, tidak punya
kontrol diri yang baik, kemampuan sosialnya buruk, dan merasa bukan bagian yang
penting untuk orang tuanya. Bukan tidak mungkin serangkaiandampak buruk ini
akan terbawasampai ia dewasa. Tidak tertutup kemungkinan pula anak akan
melakukan hal yang sama terhadap anaknya kelak. Akibatnya, masalah menyerupai
lingkaran setan yang tidak pernah putus.
Dalam pola asuh ini, orang tua memberi kebebasan yang
disertai bimbingan kepada anak. Orang tua banyak memberi masukan-masukan dan
arahan terhadap apa yang dilakukan oleh anak. Orang tua bersifat obyektif, perhatian dan kontrol terhadapperilaku anak. Dalam
banyak hal orang tua sering berdialog dan berembuk dengan anak tentang berbagai
keputusan. Menjawab pertanyaan amak dengan bijak dan terbuka.Orangtua cenderung
menganggap sederajat hak dan kewajiban anak dibanding dirinya.pola asuh ini
menempatkan musyawarah sebagai pilar dalam memecahkan berbagai persoalan anak,
mendukung dengan penuh kesadaran, dan berkomunikasi dengan baik.Pola otoritatif
mendorong anak untuk mandiri, tetapi orang tua harus tetap menetapkan batas dan
kontrol. Orang tua biasanya bersikap hangat, dan penuh welas asih kepada anak,
bisa menerima alasan dari semua tindakan anak, mendukung tindaka anak yang
konstruktif. Anak yang terbiasa dengan
pola asuh otoritatif akan membawa dampak menguntungkan. Di antaranya anak akan
merasa bahagia, mempunyai kontrol diri dan rasa percaya dirinya
terpupuk, bisa mengatasi stres, punya keinginan untuk berprestasi dan bisa
berkomunikasi, baik dengan teman-teman dan orang dewasa. Anaklebih kreatif,
komunikasi lancar, tidak rendah diri dan berjiwa besar.Penerapan pola
otoritatif berdampak positif terhadap perkembangan anak kelak,karena anak
senantiasa dilatih untuk mengambil keputusan dan siap menerima segala
konsekuensi dari keputusan yang diambil. Dengan demikian potensi yang dimiliki
anak dapat berkembang secara optimal, karena anak melakukan
segala aktivitas sesuai dengan kehendak dan potensinya. Sementara orangtua
memberikan kontrol dan bimbingan manakala anak melakukan hal-hal negatif yang
dapat merusak kepribadian anak. Dalam mengasuh anak, orangtua hendaknya
bersikap arif dan bijaksana, tidak ekstrim terhadap salah satu pola asuh yang
ada, dalam arti mampu memberi pengasuhan sesuai dengan apa yang sedang dilakukan anak dan apa
harapan orangtua. Jadi orangtua dapat menerapkan ketiga pola asuh tersebut
sesuai dengan situasi dan kondisi. Dengan demikian pengasuhan yang diberikan
oleh orangtua lebih mengutamakan kasih sayang,kebersamaan, musyawarah, saling
pengertian dan penuh keterbukaan keterbukaan. Jika anak-anak dibesarkan dan
diasuh dengan pola asuh yang demokratis, niscaya dapat tumbuh dan berkembang
dengan baik. Seluruh potensi yang dimiliki anak dapat dikembangkan secara
optimal. Dengan demikian pada gilirannya nanti anak-anak yangsehat, cerdas,
ceria dan berakhlak mulia dapat terwujud. Dampak positif yang akan muncul
adalah terwujudnya suatu tatanan masyarakat yang baik, saling menghargai,saling
menghormati, saling menyayangi, saling mengasihi, masyarakat yang
terbuka,berpikiran positif, jujur, dan.mempunyai toleransi yang baik.
Ortu cenderung kurang peduli terhadap perkembangan psikis
anak. anak dibiarkan berkembang sendiri tanpa arahan dan orang tua sibuk dengan
kepentingannya sendiri. Pendidikan anak diserahkan kepada pihak lain dan tak
ingin repot-repot.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar